Saturday, 12 May 2012

Produktifitas (l)

Berapa jam anda bekerja? Saya 12 jam lebih, ada info menarik tentang hal ini, di artikel ECC UGM . Dari artikel tersebut di gambarkan tentang waktu kerja di negara-negara maju.

"Etos kerja tinggi beberapa negara, seperti Jepang, Australia, dan negara-negara di Eropa membuat mereka bekerja lebih panjang dari jam normal. Jepang misalnya, orang Jepang merasa malu jika pukul 5 sore sudah selesai bekerja. Mereka lebih memilih pulang kerja minimal jam 7 malam. Demikian halnya di Australia, pekerja bisa menghabiskan rata-rata 12 jam per hari di tempat kerja. Kenapa mereka bisa bertahan untuk bekerja selama itu ya?"

Chic at Work


Pertanyaannya, apakah lamanya waktu di tempat kerja mengindikasikan etos kerja yang tinggi? Saya kira tidak semua. Alasannya satu, produktifitas. Apa itu prduktifitas? Kata Produktivitas merupakan kata serapan dari bahasa Inggris yaitu productivity. yang berarti kegiatan untuk menghasilkan sesuatu (Barang atau Jasa)

Productivity = Product + Activity

 Produktivitas tinggi kalau kegiatan untuk menghasilkan produk (barang/jasa) lebih banyak/tinggi.

Sedangkan tidak produktif adalah:
 Diantara tanda berpalingnya Allah dari seseorang, Dia jadikan kesibukan si hamba pada hal yang tidak bermanfaat baginya. (Hasan Al Bashri.
Astaghfirullah.... Semoga kita  diberikan bashirah untuk dapat membedakan mana yang baik dana mana yang buruk.. Aamiin..

Better Performace

Ini tulisan di banner yang ada di depan ruangan.. 
 (bersambung)

Monday, 7 May 2012

Membangun Keluarga ala Rasulullah

Re Post!
Baca artikel takut ilang, yaudah posting ulang aja di blog sendiri, swaktu2 butuh tinggal baca..Alhamdulillah.. Dapat ilmuu.. 
Nikah merupakan sunnah Rasul yang sangat sakral, karenanya nikah juga merupakan ikatan yang sangat kuat yang dalam istilah Al-Qur’an disebut dengan mitsaqon ghalizho (QS 4:21) yang kata ini digunakan juga untuk menyebut perjanjian antara para Nabi dengan Allah Swt dalam mengemban perjuangan da’wah (QS 33:7). Oleh karena itu pernikahan dan walimatul arusy harus dilaksanakan yang sesuai dengan ajaran Islam. Karena itu pernikahan jangan sampai dinodai dengan hal-hal yang bernilai maksiat. Sesudah pernikahan berlangsung, kehidupan berumah tanggapun harus dijalani dengan sebaik-baiknya meskipun tantangan dan godaan menjalani kehidupan rumah tangga ala Rasulullah SAW sangat banyak.
Untuk menjalani kehidupan rumah tangga ala Rasulullah SAW, ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian suami dan isteri.

1. Memperkokoh Rasa Cinta.
Cinta merupakan perekat dalam kekokohan kehidupan rumah tangga, bila rasa cinta suami kepada isteri atau sebaliknya telah hilang dari hatinya, maka kehancuran rumah tangga sangat sulit dihindari. Oleh karena itu suasana cinta mencintai harus saling ditumbuh-suburkan atau diperkokoh, tidak hanya pada masa-masa awal kehidupan rumah tangga, tapi juga pada masa-masa selanjutnya hingga suami isteri mencapai masa tua dan menemui kematian.
Rasulullah Saw sebagai seorang suami berhasil membagi dan menumbuh-suburkan rasa cinta kepada semua isterinya sehingga isteri yang satu mengatakan dialah yang paling dicintai oleh Rasul, begitu juga dengan isteri yang lainnya.
Berumah tangga itu diumpamakan seperti orang yang sedang berlayar, ketika pelayaran baru dimulai, kondisi di kapal masih tenang karena disamping penumpangnya betul-betul ingin menikmati pelayaran itu, juga karena belum ada kesulitan, belum ada ombak dan angin kencang yang menerpa, tapi ketika kapal itu telah mencapai lautan yang jauh, barulah terasa ombak besar dan angin yang sangat kencang menerpa, dalam kondisi seperti itu saling mengokohkan rasa cinta antara suami dengan isteri menjadi sesuatu yang sangat penting dalam menghadapi dan mengatasi terpaan badai kehidupan rumah tangga. Pernikahan dilangsungkan dengan maksud agar lelaki dan wanita yang mengikat hubungan suami isteri dapat memperoleh ketenangan dan rasa cinta. Allah berfirman yang artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menjadikan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar menjadi tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS 30:21). 

2. Saling Hormat Menghormati.
Saling cinta mencintai itu harus diperkokoh dengan saling hormat menghormati, suami hormat kepada isteri dengan memberikan penghargaan yang wajar terhadap hal-hal baik yang dilakukan isterinya, begitu juga dengan isteri terhadap suaminya dengan menerima apa-apa yang diberikan suami meskipun jumlahnya tidak banyak.
Awal-awal kehidupan rumah tangga selalu dengan masa romantis yang segalanya indah, bahkan adanya kelemahan dan kekurangan tidak terlalu dipersoalkan, romantisme memang membuat penilaian suami terhadap isteri dan isteri terhadap suaminya menjadi sangat subyektif. Tapi ketika rumah tangga berlangsung semakin lama mulailah muncul penilaian yang obyektif dalam arti suami menilai isteri atau isteri menilai suami apa adanya. Dulu ketika masa romantis, kekurangan masing-masing sebenarnya sudah terlihat tapi tidak terlalu dipersoalkan, tapi sekarang kekurangan yang tidak prinsip saja dipersoalkan, dalam kondisi seperti itulah diperlukan konsolidasi hubungan antara suami dan isteri hingga masing-masing menyadari bahwa memang kekurangan itu ada tapi dia juga harus menyadari akan adanya kelebihan.
Dalam kehidupan rumah tangga Rasulullah Saw, beliau telah mencontohkan kepada kita betapa beliau berlaku baik kepada keluarganya, dalam satu hadits beliau bersabda : “Orang yang paling baik diantara kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku.” (HR. Thabrani).

3. Saling Menutupi Kekurangan.
Suami dan isteri tentu saja memiliki banyak kekurangan, tidak hanya kekurangan dari segi fisik, tapi juga dari sifat-sifat. Oleh karena itu suami isteri yang baik tentu saja menutupi kekurangan-kekurangan itu yang berarti tidak suka diceriterakan kepada orang lain, termasuk kepada orang tuanya sendiri.
Meskipun demikian dengan maksud untuk konsultasi dan perbaikan atas persoalan keluarga kepada orang yang sangat dipercaya, maka seseorang boleh saja mengungkapkan kekurangan sifat-sifat suami atau isteri.

4. Kerjasama Dalam Keluarga.
Dalam mengarungi kehidupan rumah tangga tentu saja banyak beban yang harus diatasi, misalnya beban ekonomi, dalam hal ini suami harus mencari nafkah dan isteri harus membelanjakannya dengan sebaik-baiknya dalam arti untuk membeli hal-hal yang baik dan tidak boros. Begitu juga dengan tanggung jawab terhadap pendidikan anak yang dalam kaitan ini diperlukan kerjasama yang baik antara suami dan isteri dalam menghasilkan anak-anak yang shaleh. Kerjasama yang baik dalam mendidik anak itu antara lain dalam bentuk sama-sama meningkatkan keshalehan dirinya sebagai orang tua karena mendidik anak itu harus dengan keteladanan yang baik, juga tidak ada kontradiksi antara sikap bapak dengan ibu dalam mendidik anak dan sebagainya. Keharusan kita bekerjasama dalam hal-hal yang baik difirmankan Allah yang artinya : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS 5:2).

5. Memfungsikan Rumah Tangga Secara Optimal.
Masa sesudah menikah juga harus dijalani dengan memfungsikan keluarga seoptimal mungkin sehingga rumah tangga itu tidak sekedar dijadikan seperti terminal dalam arti anggota keluarga menjadikan rumah sekedar untuk singgah sebagaimana terminal, tapi semestinya rumah tangga itu difungsikan sebagai tempat kembali guna menghilangkan rasa penat dan memperbaiki diri dari pengaruh yang tidak baik serta memperkokoh hubungan dengan sesama anggota keluarga.
Oleh karena itu keluarga harus dioptimalkan fungsinya seperti masjid dalam arti rumah difungsikan juga sebagai tempat untuk mengokohkan hubungan dengan Allah Swt dan sesama anggota keluarga sehingga bisa dihindari sikap individual antar sesama anggota keluarga.
Disamping itu rumah juga harus difungsikan seperti madrasah yang anggota keluarganya harus memperoleh ilmu dan pembinaan karakter sehingga suami dan isteri diharapkan berfungsi seperti guru bagi anak-anaknya yang memberikan ilmu dan keteladanan yang baik.
Yang juga penting dalam kehidupan sekarang dan masa mendatang adalah memfungsikan keluarga seperti benteng pertahanan yang memberikan kekuatan pertahanan aqidah dan kepribadian dalam menghadapi godaan-godaan kehidupan yang semakin banyak menjerumuskan manusia ke lembah kehidupan yang bernilai maksiat dalam pandangan Allah dan rasul-Nya.
Mewujudkan rumah tangga ala RAsulullah SAW merupakan sesuatu yang tidak mudah, banyak sekali kendala, baik internal maupun eksternal yang harus dihadapi. Namun harus diingat bahwa kendala yang besar dan banyak itu bukan berarti mewujudkan rumah tangga ala Rasulullah SAW tidak bisa, setiap kita harus yakin akan kemungkinan bisa membentuk rumah tangga ala Rasulullah SAW, kalau kita sudah yakin, maka kita dituntut membuktikan keyakinan itu dengan kesungguhan. Hal ini karena melaksanakan ajaran Islam memang sangat dituntut kesungguhan yang sangat.
Akhirnya untuk meraih kehidupan rumah tangga yang bahagia, ada baiknya kita telaah hadits Rasul saw berikut ini : “Empat perkara yang merupakan dari kebahagian seseorang, yaitu: mempunyai pasangan yang shaleh/shalehah, mempunyai anak yang berbakti, mempunyai teman yang shaleh dan mencari rizki di negerinya sendiri.” (HR. Dailami dari Ali ra)

Sumber : http://ikadijatim.org/membangun-keluarga-ala-rasulullah/

Monday, 20 February 2012

AMAL



Dan tanda ditolaknya amal sholeh adalah, ketika sebuah ketaatan disusuli kemaksiatan, tak tercegah sang diri darinya
(Ibnu Rajab)

Diantara tanda berpalingnya Allahd ari seseorang, Dia jadikan kesibukan si hamba pada hal yang tidak bermanfaat baginya.
(Hasan Al Bashri)

Tinggalkan yang meragukan menuju yang meyakinkan. Tinggalkan yang sia-sia menuju yang berguna. Dua hal ini, jalan keselamatan.
(NN)

Mari rindui amal seikhlas susu. Tak tercampur kotoran, tak tersisip darah. Murni, bergizi, menguati. Langit ridha, bumi mengilhami.
(Ust. Salim A Fillah)

Hidup ini adalah perjalanan menuju ikhlas termurni yang kita harap hadir di akhir perjalanan; amal, walaupun kecil, yang di istiqomahkan adalah tangga untuk menggapaiknya..
(NN)

Tanamlah sebagian biji kebaikan di bawah permukaan; seba jika ia menggeletak dan tampak; ia sulit tumbuh sempurna
(Ust. Salim A. Fillah)

Boleh jadi amal yang kecil menjadi agung karena niatnya, Dan boleh jadi amal yang besar menjadi kerdil karena niatnya.

(Ibnu Mubarak)

Monday, 13 February 2012

Kriteria Pejabat dalam Memilih Apartemen

Alhamdulillah, saya bisa bangun malam untuk sholat malam, malam sebelumnya saya tidak bisa bangun malam, karena kecapekan setelah siangnya saya di kantor sampai malam, baru jam 10.30 PM saya sampai di kos saya di daerah Utan Panjang Kemayoran. Hanya jam-jam itu saya merasa tenang dan syahdu, karena tidak ada suara kendaraan yang berseliweran di jalan depan kos, juga karena sayup-sayup saya mendengar murrotal dari berbagai masjid di sekitar Kemayoran. Ini salah satu waktu yang saya dedikasikan untuk menghadap Atasan dari semua atasan di dunia, Raja dari semua raja di dunia, Allah SWT. Sejak bekerja, praktis, waktu saya semakin sempit untuk berlama-lama bertemu denganNya selepas shalat.
Subuh
Setelah menjalankan shalat tahajud 4 rakaat ditambah shalat hajat dan shalat Subuh, saya merasakan kantuk yang sangat, sayapun tertidur lagi, saya terperanjat, ketika ada bunyi sms di ponsel saya, terlebih saat melihat waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 AM! Padahal jam 08.00 saya sudah harus ada di apartemen Bu Utari Hapsari (bukan nama sebenarnya), atasan saya, untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum terselesaikaan.
Untuk menghemat uang, saya naik angkot sampai Terminal Senen, kemudian saya sambung memakai Taksi karena hari sudah siang (kalau tidak kesiangan, saya akan naik Metromini, untuk menghemat uang transport). Saya pilih taksi X, konon, Taksi ini yang paling murah dan ‘baik’.
Akhirnya pukul 08.30 AM, saya sampai  di apartemen Ibu. Setelah basa-basi sebentar, saya langsung bekerja di komputer tanpa CPU merk SS ini. Dengan koneksi internet, saya menyempatkan membuka facebook, blog, dan e-mail saya. But nothin’ special.
Rencana, ibu mau keluar makan siang dengan para koleganya, sambil menunggu waktu makan, dia berkaraoke. Dia membawakan beberapa lagu oldies yang tidak saya kenal, hanya familiar yang ‘It’s the hero.. ‘Jujur, suara ibu sangat bagus, saya merinding dibuatnya. Saya lempar sedikit pujian ke beliau. Ibu terlihat sangat senang, dan langsung meminta saya untuk fokus ke perkerjaan saja. Ditemani mbak Wiwi (bukan nama sebenarnya), house keeper di apartemen ibu, saya asyik dengan pekerjaan saya.
Tik tok, tik tok,
Waktu berputar sangat cepat. Tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul 02.00 PM, dan saya belum selesai. Saya khawatir, pekerjaan saya belum selesai ketika ibu pulang nanti. Kekhawatiran saya cukup beralasan, ibu sangat ketat terhadap waktu dan produktifitas para stafnya. Saya ingin kerja saya tidak mengecewakan beliau. I’ll do it well. Ketika Ibu pulang pukul 02.30 PM, saya belum menyelesaikan laporannya. Tidak mengapa ternyata, beliau tidak marah. Saya juga tinggal finishing saja. Alhamdulillah..
Sebenarnya saya sudah sangat lelah, semalam saya pulang larut, dan sekarang saya harus di depan komputer lagi, hampir seharian. Saat melihat ibu mengecek pekerjaan saya, saya ‘nggliyeng’ seperti hampir pingsan. Saya kedip-kedipkan mata, geleng-gelengkan kepala, dan saya tarik nafas panjang, untuk mengalirkan darah ke otak. Saya berhasil, saya tidak jadi pingsan ^^
Salah satu sudut apartemen mewah di Jakarta Pusat
Singkat cerita, selesai juga saya mengerjakannya. Kemudian saya diminta ibu untuk melihat-lihat apartemen baru, di sekitar sini juga. Rencana, ibu mau membeli satu apartemen lagi untuk adiknya, karena selama ini, mereka berdua tinggal di apartemen yang sama. Satu apartemen tidak cukup menampung barng-barang mereka, terlebih ketika semua kerabat berkumpul di apartemen ini, pasti akan sangat sesak dan tidak nyaman. Begitu kira-kira alasan ibu, mengapa dia harus membeli satu apartemen lagi.
Kami di antar oleh salah satu tim Marketing di sini. Namanya Mbak Ita, seorang wanita berumur sekitar 28 tahun, cantik, dan ramah, dia menawarkan 1 apartemen yang pintu luarnya menghadap Hotel SRL, sesuai permintaan ibu. Yang saya tidak habis fikir, beliau tidak suka dengan apartemen tersebut  karena, meskipun menghadap ke Hotel SRL, tetapi dari apartemen, masih terlihat perkampungan, rumah-rumah penduduk yang semerawut. Dengan atap-atap seng yang sudah berkarat, rumah-rumah itu memang tidak nyaman di pandang. Ibu hanya mau Hotel SRL yang terlihat. Mbak Ita menawarkan apartmen yang lebih tinggi, biar perkampungannya tidak terlihat.
Begitulah, sore itu, kami bertiga naik turun lift untuk meliahat apartemen. Ada satu catatan penting yabg berhasil saya rekam, dari kejadian sehari ini. Yang pertama, Mbak Wiwi memberi saya kue Pukis sewaktu mengerjakan tugas saya. Kue pukis yang enak sewaktu hangat. Meski sudah dingin, kuenya memang tetap enak, hanya saya sudah makan roti keju dari ibu. Jadi kepuasan marginal akan makanan sudah mengecil. Saya sangat tersentuh dengan kebaikan mbak Mimi, dia memberi saya kue yang dia beli sewaktu di perjalanan ke sini. Awalnya saya merasa kasihan, karena pemberiannya tidak saya makan, karena saya sudah kenyang. Tapi saya tidak kasihan, hanya sayang  ma kuenya, jadi tidak ada yang memakannya. Saya tidak kasihan, setelah saya berfikir sejenak, saya justru merasa takjub denagan Mbak Mimi, dia dengan baik dan ramah mau berbagi kue dengan saya.
Ya, dia hanya housekeeper, yang bertugas membersihkan apartemen ibu. Tapi sikap dan sifatnya yang ramah, menunjukkan dia orang yang kaya hatinya. Mungkin dia merasa, dengan berbagi, tidak akan mengurangi nikmatnya, justru berbagi, akan melipat gandakan kenikmatan yang didapat dengan melihat orang lain juga mendapatkan nikmat yang sama. Kurang lebih seperti itu.
Hal kedua yang berhasil saya reken di memori saya, adalah peristiwa ‘ketidaksukaan’ ibu melihat perkampungan (kumuh) di depan bakal  calon apartemennya ini. Bagaimana mungkin seorang pejabat teras tidak suka melihat kampung-kampung rakyatnya. Padahal dia bekerja untuk Negara, dibayar oleh Negara. Uang Negara dari rakyat itu sendiri. Dia lupa, bahwa rakyat adalah entitas Negara, komponen dari sebuah Negara.
Tugasnya-lah, bagaimana agar, rumah-rumah di kampung itu hilang. Iya hilang.
Hilang, karena status merekah berubah, dari pra sejahtera menjadi sejahtera, dari sejahtera kelas bawah menjadi sejahtera kelas menengah, dan seterusnya dan seterusnya. Begitulah, tugas para pemimpin negara adalah mensejahterkan rakyatnya. Yang saya lihat ini, membuat saya sempat terhenyak, para pejabat ternyata sudah kehilangan sensitifitas dengan penderitaan rakyat, karena terlalu seringnya mereka menikmati fasilitas-fasilitas mewah dari negara. Saya takut membayangkan bagaimana dengan para anggota DPR, bagaimana dengan Presiden dan Wapresnya, mereka terbiasa di layani, apakah mereka pernah berpikir bahwa harusnya melayani rakyatnya?? 

Tapi saya tetap optimis, ini hanya kasuistik, dan semoga saya salah. Dan masih banyak pemimpin yang sangat faham dengan penderitaan rakyat, yang adil, yang jujur, yang amanah. Saya percaya, karena harapan itu masih ada.
Wallahu a’lam..
Terakhir, saya ingin berdo’a, ya Allah jadikanlah para Pemimpin kami adalah para pemimpin yang adil, pemimpin yang taqwa, pemimpin yang amanah, pemimpin yang jujur, yang mencintai dan di cintai rakyat karena penuh kasih sayang, melayani rakyat, dan berkomitmen dan bekerja untuk kemakmuran rakyatnya. Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin..

Wednesday, 8 February 2012

Saya, bagian dari Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II

Bismillah..

Berawal dari sebuah informasi dari seorang kawan yang kebetulan bekerja di sini, memberikan kabar, bahwa ada lowongan sebagai pengolah data di kantor staf ahli di salah satu kementerian di Indonesia. Well, singkat cerita, saya diterima, (belakangan saya baru tahu, kalau saya diterima karena saya, hanya karna saya anak pertama!! Partner saya anak terakhir, si Ibu -panggilan kami untuk atasan kami- berharap, saya bisa ngomong teman saya ini). Oke, no matter about this, but i really know, they give me a chance, to me to show my capacity and they expect me more to help them in this room.. :) Apapun alasan saya diterima, saya harus siap kerja! Cz waktu 9 bulan bukan waktu yan singkat menganggur..

Alhamdulillah, akhirya bisa sat kota ma adek2 saya, Oka, yang kerja di Kementrian Keuangan dan Rury, yang kuliah di UI.

Bahagia rasanya, pertama, saya bisa kembali satu atap dengan adek2 saya, kedua, saya bisa memenuhi keinginan ibu dan bapak untuk kerja di birokrasi (PNS), tapi saya belum PNS si, tapi paling nggak, informasi tentang PNS akan lebih cepat, ketiga, saya berada di Ibu kota, dengan segala permasalahan dan gegap gempita politik dan hiburannya, Saya akui, saya senang, tak pernah saya merasa seseng saat ini, do'a dan penantian selama berbulan-bulan telah berakhir. Yeah, paling nggak, sampai tahun depan (saya masih kontrak..)



Yang paling membuat bahagia adalah, saya adalah staf dari staf, atasan saya adalah Staf Ahli Menteri Bappenas. Saya bekerja membantu staf ahli dalam menjalankan tugasnya untuk memberikan rekomendasi kepada Menteri PPN/Bappenas..

Kantor depan Bappenas, masih terlihat, seperti bangunan tua

How, awesome...!! Sebuah kementerian, yang pekrjaannya adalah merencanakan pembangunan dan berafiliasi dengan banyak kementerian di Indosesia! Dan saya menjadi bagian darinya..



Hari pertama kerja, semangat saya meluap-luap, yah, biasa, perasaan senang, takut, dan khawatir campur baur, membuat perut saya mulas saat itu.. Saya awali dengan menata dan merapikan meja kantor saya (akhirnya, saya punya meja, lengkap dengan komputer dan sambungan internet-nya...)


Pekerjaan I saya adalah, mencari informasi tentang CTCN (Climate Technology Center and Network), i'll do it well, ini nanti yang akan menjadi masukan dari staf ahli untuk Bu Menteri..



Semoga saya bisa menjalankan 'peran' saya dengan baik, bismillah,, Innallaha ma'ana..